Jumat, 29 Juli 2011

Laporan pendahuluan skizofrenia


SKIZOFRENIA

A.   DEFINISI
Skizofrenia merupakan bentuk psikosis fungsional paling berat dan menimbulkan disorganisasi personal yang terbesar. Dalam kasus berat, pasien tidak mempunyai kontak dengan realitas sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal. Perjalanan penyakit ini secara bertahap akan menuju kearah kronisitas, Menurut Kaplan dan Sadock (1998), skzizofrenia merupakan gangguan psikotik yang kronik, sering mereda, namun timbul hilang dengan manifestasi klonis yang amat luas variasinya. Penyesuaian premorbid, gejala dan perjalanan penyakit yang amat bervariasi sesungguhnya skizofrenia merupakan satu kelompok gangguan yang heterogen. Pasien dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) karena hebatnya, gejala, ketidakmampuan pasien untuk merawat dirinya sendiri, tiada daya tilik diri dan keruntuhan social yang lambat laun terjadi serta menjauhnya pasien dari lingkungannya.

B.   ETIOLOGI
Penyebab gangguan jiwa skozofrenia belum diketahui secara pasti. Model yang diajukan para peneliti adalah “stress-diathesis”. Pada model tersebut dikemukakan bahwa seseorang sebelumnya mempunyai diathesis lebih dahulu yang apabila mendapatkan pengaruh lingkungan yang sangat menekan akan munculnya tanda-tanda dan gejala skizofrenia (Kaplan dan Sadock, 1997). Para peneliti menyatakan etiologi gangguan skizofrenia adalah sebagai berikut :
  1. Genetik yang mendasarkan tingginya insiden skizofrenia pada keluarga dekat pasien.
  2. Pengaruh keluarga, teori psikodinamika yang melibatkan pengaruh keluarga pengaruh ini berujud komunikasi antar keluarga yang tidak sempurna atau kadang-kadang kontradiktif.
  3. Pengaruh-pengaruh masyarakat seperti :
a) kepadatan penduduk
b) tingkat sosio ekonomi
c) industrialisasi.

C.   MANIFESTASI KLINIS
Menurut Keltner et al (1995), gejala-gejala ini dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori :
  1. Gangguan Persepsi
a.    Halusinasi
Adalah pengalaman sensori yang terjadi tanpa stimulus dari luas.
Menurut Moller dan Murphy dalam Stuart dan Sundeen (1997) tingkatan halusinasi dibagi menjadi 4 tingkatan yaitu :
1)    Tahap 1 : Comforting
Tingkat cemas sedang, halusinasi secara umum adalah sesuatu yang menyenangkan.
Pengalaman halusinasi karena emosi yang meningkat seperti cemas, kesepian, rasa bersalah, takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang nyaman untuk melepaskan cemas. Individu mengenal bahwa pikiran dan pengalaman sensori dalam kontrol kesadaran jika cemas dapat dikelola. Nonpsykotik.
Tingkah laku yang dapat diobservasi :
a)    Meringis atau tertawa pada tempat yang tidak tepat.
b)    Menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara.
c)    Pergerakan mata yang cepat.
d)    Respon verbal pelan seperti jika sedang asyik.
e)    Diam dan tampak asyik.


2)    Tahap II
Pengalaman sensori dari beberapa identifikasi indera terhadap hal yang menjijikkan dan menakutkan. Halusinator mulai kehilangan control dan ada usaha untuk menjauhkan diri dari sumber stimulus yang diterima . Individu mungkin merasa malu dengan adanya pengalaman sensori dan menarik diri dari orang lain. Non psychotic. Tingkah laku yang dapat diobservasi :
a)    Meningkatnya system syaraf otonom, tanda dan gejala dari cemas seperti meningkatnya nadi, pernafasan dan tekanan darah.
b)    Lapang perhatian menjadi sempit
c)    Asyik dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi atau realitas.
3)    Tahap III
Controlling tingkat kecemasan berat, pengalaman sensori menjadi hal yang menguasai. Halusinator mencoba memberi perintah , isi halusinasi mungkin menjadi sangat menarik bagi individu. Individu mungkin mengalami kesepian , jika sensori yang diberikan berhenti. Psychotic. Tingkah laku yang dapat diobservasi :
a)    Perintah langsung oleh halusinasi dapat diikuti.
b)    Kesulitan berhubungan dengan orang lain.
c)    Lapang perhatian hanya beberapa detik aau menit.
d)    Gejala fisik dan cemas berat seperti berkeringat, tremor, ketidakmampuan mengikuti perintah.
4)    Tahap IV
Conquering, tingkat cemas, panik, umumnya halusinasi menjadi terperinci dan khayalan tampak seperti kenyataan. Pengalaman sensori mungkin mengancam jika individu tidak mengikuti perintah. Halusinasi mungkin memburuk dalam 4 jam atau sehari atau sehari jika tidak ada intervensi terapeutik.
Tingkah laku yang dapat diobservasi :
a)    Teror keras pada tingkah laku seperti panic.
b)    Potensial kuat untuk bunuh diri.
c)    Aktivitas fisik yang menggambarkan isi dai halusinasi seperti kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonia.
d)    Tidak dapat berespon pada perintah yang kompleks.
e)    Tidak dapat berespon pada lebih satu orang.
b.    Delusi
Adalah gejala yang merupakan keyakinan palsu yang timbul tanpa stimulus luar yang cukup dan mempunyai cirri-ciri realistic, tidak logis, menetap, egosentris, diyakini kebenarannya oleh pasien sebagai hal yang nyata, pasien hidup dalam wahamnya, keadaan atau hal yang diyakini itu bukan merupakan bagian dari sosiokultural setempat. Maam-macam waham :
1)    Waham rendah pikir, pasien percaya bahwa pikirannya, perasaannya, ingkah lakunya dikendalikan dari luar.
2)    Waham kebesaran, suatu kepercayaan bahwa penderita adalah orang yang penting dan berpengaruh dan mungkin mempunyai kelebihan kekuatan yan terpendam atau benar-benar merakanfiur orang kuat sepanjang sejarah.
3)    Waham diancam, suatu keyakinan bahwa dirinya selalu diancam, diikti atau ada sekelompok orang yang memenuhinya.
4)    Waham tersangkut, adana kepercayaan bahwa seala sesatu yang terjadi di sekelilngnya mempai hubungan pribadi seperti perinah atau pesan khusus.
5)    Waham bizarre, pasien sering memperlihakan adanya waham soatik msalnya pasien percaya adanya benda ang begerak-gerak di dalam ususnya. Yang termasuk waham ini adalah waham sedot pikir, waham sisip pikir, waham siar pikir, waham kendali pikir.
c.    Paranoid dimanifestasikan dengan interpretasi yang menetap bahwa tindakan orang lain sebagai suatu ancaman atau ejekan.
d.    Ilusi adalah kesalahan dalam menginterpretasikan stimulus dari luar yang nyata.
  1. Gangguan Proses Pikir
a.    Flight of idea, serangkaian pikiran yang diucapkan secara cepat disertai perpindahan materi pembicaraan yang menddak tanpa alas an logic yang nyata.
b.    Retardation, adalah lambatnya aktifitas mental sebagai contoh pasien mengatakan saya tidak dapat berpikir apa-apa.
c.    Blocking, putusnya pikiran ang ditandai dengan putusnya secara sementara atau terhentinya pembicaraan.
d.    Autisme, pikiran yang timbul dari fantasi.
e.    Ambivalensi adalah keinginan yang sangat pada dua hal yang berbeda pada waktu yang sama dan orang yang sama.
f.     Kehilangan asosiasiidak adanya hubungan pola pikir, ide dan topik yang normal, tiba-tiba beralih tanpa menunjukkan hubungan dengan topic sebelumnya.
  1. Gangguan Kesadaran
Manifestasi dari ganguan kesadaran antara lain bingung, inkoherensi pembicaraan, pembicaraan ang tidak dapat dimengerti, terdapat distrsi tata bahasa atau susunan kalimat, sering memakai istilah aneh, inkherensi timbul karena pikiran kacau sehingga beberapa pikiran dikeluarkan dalam satu kalimat, clouding atau kesadaran berkabut, kesadaran menurun disertai gangguan persepsi dan sikap.
  1. Gangguan Afek
a.    Afek yang tidak tepat, suatu keadaan disharmoni afek yang tidak sesuai dengan tingkah laku pasien.
b.    Afek tumpul, ketidakmampuan membangkitkan emosi dan berespon trhadap berita duka.
c.    Afek datar, ketidakmampuan membangkitkan respon terhadap berbagai respon.
d.    Afek labil, kondisi emosi yang cepat berubah.
e.    Apatis, warna emosi yang tumpul disertai keacuhan atau ketidakpedulian.
f.     Euforia, gembira berlebihan, aa peningkatan perasaan dari biasanya selalu merasa optimis, senang dan percaya diri, bersikap meyakinkan.

D.   KOMPLIKASI
Menurut Keliat (1996), dampak gangguan jiwa skizofrenia antara lain :
1.    Aktifitas hidup sehari-hari
Klien tidak mampu melakukan fungsi dasar secara mandiri, misalnya kebersihan diri, penampila dan sosialisasi.
2.    Hubungan interpersonal
Klien digambarkan sebagai individu yang apatis, menarik diri, terisolasi dari teman-teman dan keluarga. Keadaan ini merupakan proses adaptasi klien terhadap lingkungan kehidupan yang kaku dan stimulus yang kurang.
3.    Sumber koping
Isolasi social, kurangnya system pendukung dan adanya gangguan fungsi pada klien, menyebabkan kurangnya kesempatan menggunakan koping untuk menghadapi stress.


4.    Harga diri rendah
Klien menganggap dirinya tidak mampu untuk mengatasi kekurangannya, tidak ingin melakukan sesuatu untuk menghindari kegagalan (takut gagal) dan tidak berani mencapai sukses.
5.    Kekuatan
Kekuatan adalah kemampuan, ketrampilan aatau interes yang dimiliki dan pernah digunakan klien pada waktu yang lalu.
6.    Motivasi
Klien mempunyai pengalaman gagal yang berulang.
7.    Kebutuhan terapi yang lama
Klien disebut gangguan jiwa kronis jika ia dirawat di rumah sakit satu periode selama 6 bulan terus menerus dalam 5 tahun tau 2 kali lebih dirawat di rumah sakit dalam 1 tahun.

E.   PENATALAKSANAAN
  1. Medis
Obat antipsikotik digunakan untuk mengatasi gejala psikotik (misalnya perubahan perilaku, agitasi, agresif, sulit tidur, halusinasi, waham, proses piker kacau). Obat-obatan untuk pasien skizophrenia yang umum diunakan adalah sebaga berikut :
a.    Pengobatan pada fase akut
1)    Dalam keadaan akut yang disertai agitasi dan hiperaktif diberikan injeksi :
a)    Haloperidol 3x5 mg (tiap 8 jam) intra muscular.
b)    Clorpromazin 25-50 mg diberikan intra muscular setiap 6-8 jam sampai keadaan akut teratasi.
c)    Kombinsi haloperidol 5 mg intra muscular kemudian diazepam 10 mg intra muscular dengan interval waktu 1-2 menit.


2)    Dalam keadaan agitasi dan hiperaktif diberikan tablet :
a)    Haloperidol 2x1,5 – 2,5 mg per hari.
b)    Klorpromazin 2x100 mg per hari
c)    Triheksifenidil 2x2 mg per hari
b.    Pengobaan fase kronis
Diberikan dalam bentuk tablet :
1)    Haloperidol 2x0,5 – 1 mg perhari
2)    Klorpromazin 1x50 mg sehari (malam)
3)    Triheksifenidil 1-2x2 mg sehari
a)    Tingkatkan perlahan-lahan, beri kesempatan obat untuk bekerja, disamping itu melakukan tindakan perawatan dan pendidikan kesehatan.
b)    Dosis maksimal
Haloperidol : 40 mg sehari (tablet) dan klorpromazin 600 mg sehari (tablet).
c.    Efek dan efek samping terapi
1)    Klorpromazine
Efek : mengurangi hiperaktif, agresif, agitasi
Efek samping : mulut kering, pandangan kabur, konstipasi, sedasi, hipotensi ortostatik.
2)    Haloperidol
Efek : mengurangi halusinasi
Efek samping : mulut kering, pandangan kabur, konstipasi, sedasi, hipotensi ortostatik.
  1. Tindakan keperawatan efek sampan obat
a.    Klorpromazine
1)    Mulut kering  : berikan permen, es, minum air sedikit-sedikit dan membersihkan mulut secara teratur.
2)    Pandangan kabur : berikan bantuan untuk tugas yang membutuhkan ketajaman penglihatan.
3)    Konstipasi : makan makanan tinggi serat
4)    Sedasi : tidak menyetir atau mengoperasikan peralatan ang berbahaya.
5)    Hipoensi ortostatik : perlahan-lahan bangkit dari posisi baring atau duduk.
b.    Haloperidol
1)    Mulut kering  : berikan permen, es, minum air sedikit-sedikit dan membersihkan mulut secara teratur.
2)    Pandangan kabur : berikan bantuan untuk tugas yang membutuhkan ketajaman penglihatan.
3)    Konstipasi : makan makanan tinggi serat
4)    Sedasi : tidak menyetir atau mengoperasikan peralatan ang berbahaya.
5)    Hipotensi ortostatik : perlahan-lahan bangkit dari posisi baring atau duduk

















DAFTAR PUSTAKA

1.    Kaplan & Sadock, 1997, Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Edisi 7 Jilid 2, Binarupa Aksara. Jakarta
2.    Stuart & Sudeen, 1998, Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3 EGC, Jakarta
3.    Keliat, B, Herawati, 1999, Proses Keperawatan Jiwa, EGC Jakarta
4.    Johnson Marion, dkk, 2000, Nursing Outcome Classification (NOC), Mosby
5.    Nanda, 2005, Diagnosis Keperawatan Nanda Definisi dan Klasifikasi, Nursing Intervention.

0 komentar:

Posting Komentar